Sebanyak 1.200 penari memeriahkan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (20/10), meski penyelenggaraannya sempat ditolak Front Pembela Islam (FPI) yang mengaitkan hal itu dengan bencana.
Banyuwangi, salah satu kabupaten yang sedang bangkit di Jawa Timur, hari Sabtu (20/10) menggelar Festival Gandrung Sewu. Seribu seratus tujuh puluh tiga penari memeriahkan festival yang dilangsungkan di Pantai Boom Banyuwangi.
Tema besar festival tahun ini adalah “Layar Kemendung,” yang menampilkan kisah heroism bupati pertama Banyuwangi, Raden Mas Alit, ketika menentang pendudukan Belanda. “Raden Mas Alit gugur dalalm ekspedisi pelayaran dan menimbulkan kesedihan atau kumendung bagi rakyat Banyuwangi,” demikian ujar Mamiek Yuniantri, salah seorang warga kepada VOA.
Sejarah Indonesia mencatat tarian ini memang merupakan bagian tidak terpisahkan dari strategi melawan penjajahan. Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tarian ini sebagai Warisan Budaya Bukan Benda.
Tari Gandrung, Bentuk Rasa Syukur Setelah Panen
“Tari Gandrung” adalah kesenian asli yang lahir dan berkembang di Banyuwangi sebagai bentuk rasa syukur warga setelah panen. Gandrung yang berarti terpesona atau kekaguman yang luar biasa, dijadikan nama tarian untuk melambangkan kekaguman warga Blambangan pada Dewi Sri, yang dikenal sebagai Dewi Padi. Filosofi penghormatan pada Dewi Sri ini yang mendorong warga mempertahankan dan melestarikan “Tari Gandrung.”
Awalnya tarian ini dibawakan oleh penari laki-laki dengan dandanan perempuan. Tetapi seiring berkembangnya Islam di daerah ini yang menabukan laki-laki berdandan seperti perempuan, “Gandrung Lanang” – julukan bagi penari laki-laki dulu – mulai hilang. Kini tarian itu umumnya dibawakan oleh perempuan.
Para penari memeriahkan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu, 20 Oktober 2018. (FotoCourtesy : Radio Blambangan FM Banyuwangi.)
Menteri Pariwisata Arif Yahya, ketika membuka Festival Gandrung Sewu, mengatakan pagelaran ini sudah masuk dalam salah satu acara paling dinantikan di tingkat nasional.
Selain diramaikan oleh 1.173 penari, ada pula 64 penampil fragmen dan 65 pemusik yang memeriahkan festival ini.
FPI Tolak Penyelenggaraan Festival Gandrung Sewu
Sebelumnya Dewan Pengurus Wilayah Front Pembela Islam DPW FPI di Banyuwangi pada 11 Oktober lalu, sempat mengeluarkan pernyataan sikap menolak penyelenggaraan festival ini, dengan mengasumsikan festival itu sebagai kemaksiatan.
“Akhir-akhir ini kita semua diuji. Ada gempa bergilir, gunung meletus, lahar, tsunami, lumpur.. ya intinya nasehat lah.. Banyuwangi dekat pantai, sudah pengalaman kena tsunami. Kami hanya ingin memberi nasehat, tidak akan melakukan penertiban, hanya aksi moral,” ujar Ketua DPW FPI Banyuwangi Agus Iskandar sebagaimana dikutip media-media di Indonesia. Lebih jauh diakuinya bahwa bencana gempa dan tsunami muncul karena pertemuan dua lempeng bumi, tetapi tetap menyerukan agar “masyarakat tidak lagi melakukan maksiat di muka bumi.”
Festival Gandrung Sewu Ikut Dorong Perekonomian Lokal
Festival Gandrung Sewu yang dipersiapkan sejak lama dan menarik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri, terbukti berdampak positif pada perekonomian lokal. “Ribuan warga menikmati berkah ekonominya, mulai dari warung, jasa transportasi, restoran, hotel, homestay, sampai usaha kecil dan menengan (UKM) yang menjadi produsen oleh-oleh,” ujar Mamiek Yuniantri.
Hal senada disampaikan Aminah, warga Mandar berusia 36 tahun. “Saya senang sekali Mbak karena dapat berkah dari digelarnya festival ini. Pasalnya saya membuka lahan pakir untuk kendaraan wisatawan dan masyarakat yang ingin menonton pagelaran itu.”
Sementara Ayu Anugrah, warga berusia 20 tahun, mengatakan sangat senang datang menyaksikan langsung festival ini “karena menceritakan tentang perjuangan warga kami melawan penjajah di bumi Blambangan.” “Saya berharap festival ini terus digelar di tahun-tahun mendatang,” tambahnya.
Menteri Pariwisata Arif Yahya didampingi Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, membuka Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, Jawa Timur, 20 Oktober 2018. (Foto courtesy: Radio Blambangan FM Banyuwangi).
Banyuwangi, Kabupaten Paling Rajin Gelar Acara Wisata
Dalam pidatonya, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Banyuwangi telah menjadi penyelenggara acara wisata terbanyak di Indonesia, termasuk menjadi salah satu tujuan wisata utama yang ikut mendukung Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia minggu lalu.
dan kali ini gandrung sewu pada tahun ini akan diadakan pada tanggal 12 sepetember 2019.
Festival Gandrung Sewu di Kabupaten Banyuwangi yang digelar untuk kedelapan kalinya kembali memukau ribuan wisatawan yang memadati bibir Pantai Boom. Gerak rampak 1.200 penari Gandrung berkostum merah menyala dengan latar belakang Selat Bali mampu menghipnotis ribuan wisatawan yang hadir.
Saya salut dengan Banyuwangi. Lagi-lagi Banyuwangi menunjukkan kelasnya sebagai destinasi dengan kreativitas luar biasa," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka acara.
Selain Arief Yahya, atraksi wisata budaya itu dihadiri Wakil Gubernur BI Saifullah Yusuf, Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi, Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.
Tahun ini, tema yang diusung Festival Gandrung Sewu adalah 'Layar Kumendung', sebuah kisah kepahlawanan dari Bupati Banyuwangi pertama, Raden Mas Alit. Sosok yang diangkat menjadi bupati kala berusia 18 tahun itu harus mengambil sikap di antara dua pilihan sulit, yaitu terdesak mengikuti perintah penjajah yang menindas atau melakukan perlawanan bersama rakyat yang semakin tak berdaya pasca-perang penghabisan.
Di tengah konflik batin itulah, tari Gandrung digambarkan sebagai media konsolidasi kekuatan rakyat Banyuwangi. Tak hanya berkamuflase dengan memanfaatkan pertunjukkan seni, tetapi juga menjadi sarana menghibur dan memperkuat batin rakyat yang terkungkung penjajah. Semua fragmen cerita disajikan dengan koreografi yang memukau.
Arief Yahya mengatakan, Gandrung Sewu memenuhi tiga nilai sebuah pertunjukan yang baik, yaitu cultural atau creative velue, communication value, hingga commercial value.
Nilai kultur dan kreativitasnya sangat terasa. Tingkat komunikasinya tinggi.m, terbukti selalu viral di media sosial. Dan yang terakhir, dari sisi komersil tidak perlu diperdebatkan lagi. Pesawat penuh, penginapan penuh, kuliner ramai. Rakyat Banyuwangi yang menikmati," terangnya.
Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berharap, festival seni-budaya terus menjadi bagian dari pengembangan daerah. "Jawa Timur adalah daerah kaya seni-budaya, dan Banyuwangi telah terbukti mampu mengolahnya untuk memajukan daerah serta memberi manfaat ekonomi untuk warga," ujar Gus Ipul.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof Renald Kasali mengatakan, atraksi wisata budaya itu telah mengerek pemasaran daerah. "Banyuwangi berhasil mengubah dirinya dengan inovasi berkelanjutan," ujarnya.
Bupati Azwar Anas menambahkan, Festival Gandrung Sewu adalah bagian dari konsolidasi kebudayaan dengan kemasan pariwisata. "Penonton dapat menyaksikan unsur pendidikan tentang cinta bangsa yang begitu kuat. Jadi tidak semata-mata atraksi wisata," katanya.
Festival ini juga menjadi sarana regenerasi pelaku seni-budaya berbasis tradisi rakyat. Peminatnya tiap tahun ribuan anak muda. Insya Allah Banyuwangi tidak akan kekurangan generasi pencinta seni-budaya, sekaligus ini ikhtiar memajukan kebudayaan daerah sebagai pilar kebudayaan nasional," ujar Anas
Senin, 09 September 2019
Langganan:
Posting Komentar (Atom)




Wowwwwwwww
BalasHapussuper keren uyy
BalasHapus