Senin, 09 September 2019

GANDRUNG SEWU 2018 "LAYAR KUMENDUNG"

Sebanyak 1.200 penari memeriahkan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (20/10), meski penyelenggaraannya sempat ditolak Front Pembela Islam (FPI) yang mengaitkan hal itu dengan bencana.

Banyuwangi, salah satu kabupaten yang sedang bangkit di Jawa Timur, hari Sabtu (20/10) menggelar Festival Gandrung Sewu. Seribu seratus tujuh puluh tiga penari memeriahkan festival yang dilangsungkan di Pantai Boom Banyuwangi.

Tema besar festival tahun ini adalah “Layar Kemendung,” yang menampilkan kisah heroism bupati pertama Banyuwangi, Raden Mas Alit, ketika menentang pendudukan Belanda. “Raden Mas Alit gugur dalalm ekspedisi pelayaran dan menimbulkan kesedihan atau kumendung bagi rakyat Banyuwangi,” demikian ujar Mamiek Yuniantri, salah seorang warga kepada VOA.

Sejarah Indonesia mencatat tarian ini memang merupakan bagian tidak terpisahkan dari strategi melawan penjajahan. Oleh karena itu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan tarian ini sebagai Warisan Budaya Bukan Benda.

Tari Gandrung, Bentuk Rasa Syukur Setelah Panen

“Tari Gandrung” adalah kesenian asli yang lahir dan berkembang di Banyuwangi sebagai bentuk rasa syukur warga setelah panen. Gandrung yang berarti terpesona atau kekaguman yang luar biasa, dijadikan nama tarian untuk melambangkan kekaguman warga Blambangan pada Dewi Sri, yang dikenal sebagai Dewi Padi. Filosofi penghormatan pada Dewi Sri ini yang mendorong warga mempertahankan dan melestarikan “Tari Gandrung.”

Awalnya tarian ini dibawakan oleh penari laki-laki dengan dandanan perempuan. Tetapi seiring berkembangnya Islam di daerah ini yang menabukan laki-laki berdandan seperti perempuan, “Gandrung Lanang” – julukan bagi penari laki-laki dulu – mulai hilang. Kini tarian itu umumnya dibawakan oleh perempuan.


Para penari memeriahkan Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu, 20 Oktober 2018. (FotoCourtesy : Radio Blambangan FM Banyuwangi.)
Menteri Pariwisata Arif Yahya, ketika membuka Festival Gandrung Sewu, mengatakan pagelaran ini sudah masuk dalam salah satu acara paling dinantikan di tingkat nasional.

Selain diramaikan oleh 1.173 penari, ada pula 64 penampil fragmen dan 65 pemusik yang memeriahkan festival ini.

FPI Tolak Penyelenggaraan Festival Gandrung Sewu

Sebelumnya Dewan Pengurus Wilayah Front Pembela Islam DPW FPI di Banyuwangi pada 11 Oktober lalu, sempat mengeluarkan pernyataan sikap menolak penyelenggaraan festival ini, dengan mengasumsikan festival itu sebagai kemaksiatan.

“Akhir-akhir ini kita semua diuji. Ada gempa bergilir, gunung meletus, lahar, tsunami, lumpur.. ya intinya nasehat lah.. Banyuwangi dekat pantai, sudah pengalaman kena tsunami. Kami hanya ingin memberi nasehat, tidak akan melakukan penertiban, hanya aksi moral,” ujar Ketua DPW FPI Banyuwangi Agus Iskandar sebagaimana dikutip media-media di Indonesia. Lebih jauh diakuinya bahwa bencana gempa dan tsunami muncul karena pertemuan dua lempeng bumi, tetapi tetap menyerukan agar “masyarakat tidak lagi melakukan maksiat di muka bumi.”

Festival Gandrung Sewu Ikut Dorong Perekonomian Lokal

Festival Gandrung Sewu yang dipersiapkan sejak lama dan menarik perhatian wisatawan dalam dan luar negeri, terbukti berdampak positif pada perekonomian lokal. “Ribuan warga menikmati berkah ekonominya, mulai dari warung, jasa transportasi, restoran, hotel, homestay, sampai usaha kecil dan menengan (UKM) yang menjadi produsen oleh-oleh,” ujar Mamiek Yuniantri.

Hal senada disampaikan Aminah, warga Mandar berusia 36 tahun. “Saya senang sekali Mbak karena dapat berkah dari digelarnya festival ini. Pasalnya saya membuka lahan pakir untuk kendaraan wisatawan dan masyarakat yang ingin menonton pagelaran itu.”

Sementara Ayu Anugrah, warga berusia 20 tahun, mengatakan sangat senang datang menyaksikan langsung festival ini “karena menceritakan tentang perjuangan warga kami melawan penjajah di bumi Blambangan.” “Saya berharap festival ini terus digelar di tahun-tahun mendatang,” tambahnya.


Menteri Pariwisata Arif Yahya didampingi Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, membuka Festival Gandrung Sewu di Banyuwangi, Jawa Timur, 20 Oktober 2018. (Foto courtesy: Radio Blambangan FM Banyuwangi).
​Banyuwangi, Kabupaten Paling Rajin Gelar Acara Wisata

Dalam pidatonya, Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan Banyuwangi telah menjadi penyelenggara acara wisata terbanyak di Indonesia, termasuk menjadi salah satu tujuan wisata utama yang ikut mendukung Pertemuan Tahunan Dana Moneter Internasional IMF dan Bank Dunia minggu lalu.
dan kali ini gandrung sewu pada tahun ini akan diadakan pada tanggal 12 sepetember 2019.

Festival Gandrung Sewu di Kabupaten Banyuwangi yang digelar untuk kedelapan kalinya kembali memukau ribuan wisatawan yang memadati bibir Pantai Boom. Gerak rampak 1.200 penari Gandrung berkostum merah menyala dengan latar belakang Selat Bali mampu menghipnotis ribuan wisatawan yang hadir.

Saya salut dengan Banyuwangi. Lagi-lagi Banyuwangi menunjukkan kelasnya sebagai destinasi dengan kreativitas luar biasa," ujar Menteri Pariwisata Arief Yahya saat membuka acara.

Selain Arief Yahya, atraksi wisata budaya itu dihadiri Wakil Gubernur BI Saifullah Yusuf, Deputi Gubernur Bank Indonesia Rosmaya Hadi, Guru Besar UI Prof Rhenald Kasali, dan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Tahun ini, tema yang diusung Festival Gandrung Sewu adalah 'Layar Kumendung', sebuah kisah kepahlawanan dari Bupati Banyuwangi pertama, Raden Mas Alit. Sosok yang diangkat menjadi bupati kala berusia 18 tahun itu harus mengambil sikap di antara dua pilihan sulit, yaitu terdesak mengikuti perintah penjajah yang menindas atau melakukan perlawanan bersama rakyat yang semakin tak berdaya pasca-perang penghabisan.

Di tengah konflik batin itulah, tari Gandrung digambarkan sebagai media konsolidasi kekuatan rakyat Banyuwangi. Tak hanya berkamuflase dengan memanfaatkan pertunjukkan seni, tetapi juga menjadi sarana menghibur dan memperkuat batin rakyat yang terkungkung penjajah. Semua fragmen cerita disajikan dengan koreografi yang memukau.

Arief Yahya mengatakan, Gandrung Sewu memenuhi tiga nilai sebuah pertunjukan yang baik, yaitu cultural atau creative velue, communication value, hingga commercial value.

Nilai kultur dan kreativitasnya sangat terasa. Tingkat komunikasinya tinggi.m, terbukti selalu viral di media sosial. Dan yang terakhir, dari sisi komersil tidak perlu diperdebatkan lagi. Pesawat penuh, penginapan penuh, kuliner ramai. Rakyat Banyuwangi yang menikmati," terangnya.

Wagub Jatim Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berharap, festival seni-budaya terus menjadi bagian dari pengembangan daerah. "Jawa Timur adalah daerah kaya seni-budaya, dan Banyuwangi telah terbukti mampu mengolahnya untuk memajukan daerah serta memberi manfaat ekonomi untuk warga," ujar Gus Ipul.

Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia Prof Renald Kasali mengatakan, atraksi wisata budaya itu telah mengerek pemasaran daerah. "Banyuwangi berhasil mengubah dirinya dengan inovasi berkelanjutan," ujarnya.

Bupati Azwar Anas menambahkan, Festival Gandrung Sewu adalah bagian dari konsolidasi kebudayaan dengan kemasan pariwisata. "Penonton dapat menyaksikan unsur pendidikan tentang cinta bangsa yang begitu kuat. Jadi tidak semata-mata atraksi wisata," katanya.

Festival ini juga menjadi sarana regenerasi pelaku seni-budaya berbasis tradisi rakyat. Peminatnya tiap tahun ribuan anak muda. Insya Allah Banyuwangi tidak akan kekurangan generasi pencinta seni-budaya, sekaligus ini ikhtiar memajukan kebudayaan daerah sebagai pilar kebudayaan nasional," ujar Anas

Minggu, 08 September 2019

5 KESEIAN YANG MASIH ASLI BANYUWANGI


 Kesenian Asli Banyuwangi – City of magic sepertinya tak berlebihan menggambarkan kota di ujung timur pulau Jawa ini. Banyuwangi, kota yang berbatasan dengan kabupaten Situbondo di bagian utara, selat Bali di bagian timur dan samudra Hindia di bagian selatan. Selama ini kita mungkin tak asing lagi dengan beberapa icon dari kota Banyuwangi yang telah mendunia. Sebut saja kawah Ijen dengan kecantikan alamnya yang menghipnotis, dan pantai pelengkung yang menjadi salah satu pantai dengan ombak berkelas dunia. Masih banyak kesenian asli Banyuwangi yang masih lestari sampai sekarang.
Namun ternyata kota yang memiliki semboyan “The sunrise of Java” ini tak hanya memukau dengan keindahan alamnya. Karena berbagai seni dan budaya asli masih hidup di kota Blambangan ini. bahkan beberapa kesenian ini menjadi aset yang cukup menarik perhatian wisatawan lokal maupun internasional. Sebut saja tarian Gandrung yang begitu menghipnotis atau tari Seblang yang seolah kaya akan nuansa mistis, Atau tarian kebo-keboan yang tak kalah maknanya.

Berikut Kesenian Asli banyuwangi yang Tetap Lestari Sampai Sekarang
1. Festival Gandrung Sewu
gandrung sewu


Gandrung sewu adalah tarian yang di ikuti oleh 1250 penari gandrung. Para penari yang sebagian besar para pelajar ini dipilih dari beberapa sanggar tari dan dipersiapkan sekitar satu bulan lamanya. Tak heran bila saat gladih bersih digelar sehari sebelumnya pun kekompakan dan keindahan sudah terlihat dari penerus tari turun temurun tersebut.Bertempat di pantai boom dan berlatar selat bali, saat hari h semua mata seakan terhipnotis dengan keindahan para penari dengan busana dominan berwarna merah ini. tarian ribuan gandrung ini terlihat begitu indah, meriah dan spektakuler. Bukan itu saja, antusias turis asing seperti marina debosova dari Slovakia, maria Garcia dari Venezuela dan georgana dari Rumania turut ambil serta dalam gandrung sewu yang bertema Seblang Lukinto

Pada penyelenggaraan tahun 2017 ini festival gandrung sewu dikemas lengkap dengan iringan music rancak dan sentuhan teatrikal yang mempunyai makna permohonan ampun kepada yang maha kuasa.Boleh dikatakan kesenian asli banyuwangi yang pertama adalah tari gandrung. Menurut sejarahnya gandrung sendiri diartikan sebagai terpesonanya masyarakat blambangan yang agraris kepada dewi padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.

Kesenian tari gandrung banyuwangi lahir pada masa sengsara. semua bermula saat belanda ingin menguasai kerajaan blambangan di banyuwangi. Perang besar pun tak terhindarkan, masyarakat blambangan yang tak ingin dijajah melawan dan bertempur sengit pada tanggal 18 desember 1771 lewat pertempuran dahsyat yang disebut puputan bayu.

Kesenian gandrung Banyuwangi muncul di kota Banyuwangi bersamaan dibabatnya hutan tirta Gonda atau tirta Arum untuk membangun ibukota blambangan. Untuk memulai dan menata kehidupan yang baik terciptalah seni tarian gandrung yang pada mulanya di bawa oleh kaum lelaki yang membawa peralatan musik berapa gendang dan beberapa rebana.

Konon kenapa gandrung diperankan oleh laki-laki, karena menurut masyarakat tradisional Blambangan tidak pantas bagi seorang wanita yang menari terus menerus dari malam hingga pagi. Dalam perkembangannya, tari gandrung sudah menjadi bagian hidup suku asli banyuwangi yaitu suku Osing.

Pada awalnya penari gandrung memang dibawakan oleh seorang pria atau biasa disebut gandrung marsan. Namun lambat laun sesuai dengan perkembangan jaman gandrung berkembang dan mulai dibawakan perempuan. Karena tak heran jika sampai saat ini bisa ditemui gandrung yang dibawakan oleh pria.

2.Tari Seblang
Seblang oleh sari

Selain gandrung, kesenian atau tarian khas Banyuwangi yang tak kalah indah dan penuh kisah berikutnya adalah tari seblang. Seblang adalah sebuah ritual tradisional khas suku osing. Tarian seblang dipentaskan sebagai bentuk dan rasa syukur masyarakat banyuwangi dan menolak balak agar desa tetap aman dan tentram.Untuk para penari yang akan membawakan tari seblang haruslah keturunan dari penari sebelumnya dan dipilih langsung oleh dukun setempat. Hiasan padi, tebu dan tanaman lainnya adalah lambing dari kesuburan yang patut disyukuri.

3.Tari Janger
kesenian janger


Selanjutnya adalah tari janger, meski bukan murni berasal dari banyuwangi. Namun tarian ini kerap masuk sebagai tradisi yang sering dipentaskan masyarakat banyuwangi. Janger adalah tarian pergaulan muda mudi bali. Tarian ini dibawakn oleh 10 penari yang berpasangan, yaitu kelompok putri yang biasa disebut janger dan putra yang disebut kecak.Janger sendiri diadaptasikan dari aktivitas para petani yang menghibur diri karena lelah bekerja.

4. Barong Kemiren

Barong kemiren

Kesenian Banyuwangi berikutnya adalah barong kemiren. Selain tarian bentuk kesenian ini juga menggunakan media barong. Kesenian ini diyakini suku osing sangat sacral sehingga ada perlakuan khusus karena barong kemiren berhubungan dengan buyut cilik yang diyakini oleh penduduk setempat sebagai cikal bakal desa. Karena pada saat saat tertentu barong diupacarai, diberi sesaji dan dirawat dengan hati hati. sebelum memulai pementasan, ritual dilakukan terlebih dahulu oleh sang spiritual bersama seseorang yang memiliki hajatan atau syukuran.

Puncak kesenian yang dimulai dari malam pukul 9 ini berakhir pukul 6 pagi setelah salah satu lakon mulai kesurupan.

5. Kebo-Keboan
kebo-keboan alas malang


Dan kesenian asli Banyuwangi lainnya adalah ritual kebo-keboan yang juga merupakan tradisi khas suku Osing. Ritual ini dilakukan untuk memohon kepada tuhan agar panen mereka subur dan dijauhi oleh mala petaka. Penggunaan lambing kerbau dipakai karena kerbau merupakan mitra kerja para petani yang setia menemani disawah.Sementara kerbau yang diperankan oleh manusia kian melambangkan hubungan khusus antara kerbau dan para petani. Ritual kebo-keboan dibagi dalam beberapa tahapan yakni tujuh hari sebelum pelaksanaan sang pawang melakukan meditasi di beberapa tempat yang dianggap keramat.

Masih banyak lagi kesenian di banyuwangi,demikian informasi tentang 5 kesenian asli Banyuwangi yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya dan menjadi salah satu daya tarik kunjungan wisata ke Banyuwangi.

Kamis, 05 September 2019

LAGI-LAGI GANDRUNG BANYUWANGI DIUNDANG KE ISTANA PRESIDEN

Banyuwangi - Sebanyak 200 penari Gandrung Banyuwangi berangkat ke Istana Negara untuk tampil dalam peringatan HUT ke-72 RI. Para penari ini akan tampil di depan Presiden Joko Widodo, dalam upacara penurunan bendera Merah Putih, di Istana Negara, Kamis (17/8) mendatang.


Menurut Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas, ini merupakan penghormatan bagi seluruh warga Banyuwangi. Sebelumnya, Presiden Jokowi juga mengundang penari Gandrung pada peringatan Sumpah Pemuda 20 Oktober 2016 lalu.

"Kami semua bangga pemerintah pusat, Presiden Jokowi, mempunyai semangat nyata untuk mengapresiasi kreasi seni budaya daerah. Apalgi sekarang diberi ruang pada rangkaian peringatan kemerdekaan di mana semua tamu negara hadir, mulai tokoh-tokoh penting hingga perwakilan negara sahabat. Ini menjadi penguat bahwa keberagaman budaya daerah adalah pemersatu, bukan pemecah belah bangsa. Justru dalam perbedaan yang sangat banyak, kita bisa saling menguatkan," kata Anas.

Apresiasi tinggi terhadap kesenian Banyuwangi ini, kata Anas, menjadi semangat bagi seniman Banyuwangi untuk terus berkarya.

"Ini adalah tugas negara. Dan ini menjadi penyemangat bagi kami untuk terus melestarikan kesenian dan kebudayaan Banyuwangi," tambah Anas.

Sementara itu, Ketua rombongan kontingen kesenian Gandrung Banyuwangi, Budianto mengatakan, 200 penari yang berangkat ini, merupakan hasil seleksi dari dua tahap yang dilakukan panitia. Dari 923 orang penari yang terdaftar, diambil menjadi 200 penari dengan syarat dan ketentuan panitia.

"Selain penari ada 18 Wiyogo, 2 orang sinden, petugas rias dan lain-lain hingga total 250 orang yang pergi ke Jakarta," tambahnya.

Mereka akan membawakan Tari Jejer Kembang Menur yang menceritakan keceriaan remaja-remaja perempuan melihat dunia. Tari turunan Gandrung yang cukup baru itu memang didesain untuk pertunjukan kolosal yang melibatkan banyak penari.

Saat tampil anak-anak kebanggaan Banyuwangi ini akan mengenakan selendang tari atau sampur warna merah, baju gandrung hitam yang di pinggang diberi jarik hitam, lengkap dengan kipas berwarna merah putih ukuran besar. Tak hanya itu, mereka telah menyiapkan formasi akhir yang akan mengejutkan penonton, yakni formasi membentuk angka 72 untuk mengingatkan bahwa telah 72 tahun Indonesia Merdeka.

Budianto mengaku latihan yang hanya 6 kali dalam 2 minggu terakhir ini sudah cukup untuk persiapan. Pasalnya banyak sekali remaja Banyuwangi yang memiliki darah seni sehingga bakat menari juga tertanam dalam diri mereka.

"Selain itu mereka sudah hasil dari seleksi. Sebagian besar memang penari-penari terbaik remaja Banyuwangi, " kata Budianto.

Sementara itu, salah satu penari, Aritha Maulida mengaku senang bisa ikut ambil bagian dalam pementasan di istana negara ini. Aritha sengaja mendaftarkan diri begitu ada pengumuman seleksi penari Gandrung di Upacara Kemeedekaan RI di Istana Negara Jakarta.


"Alhamdulillah saya lolos seleksi setelah melalui 5 kali seleksi. Senang sekali bisa gabung, menari di hadapan Presiden dan tamu-tamu penting itu kebanggaan tiada dua buat saya. Saya senang Gandrung dipilih untuk bisa tampil di Istana, rasanya ini penghargaan buat pelajar yang suka menari seperti saya ini," kata siswi SMPN 1 Wongsorejo yang duduk di kelas IX ini.

"Ini pengalaman yang tak terlupakan dan saya jadikan pelecut untuk selalu belajar lebih baik lagi," imbuhnya.

TARI GANDRUNG BANYUWANGI

Tari Gandrung dikenal sebagai ikon kesenian dan budaya Banyuwangi. Keberadaannya kian populer setelah Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyelenggarakan pagelaran tahunan yang bertajuk "Festival Gandrung Sewu".

Festival Gandrung Sewu pertama kali digelar pada tahun 2012. Nama sewu dipilih karena para penari yang tampil menari Gandrung berjumlah seribu orang atau lebih. Acara tahunan ini menjadi daya tarik bagi wisatawan, baik lokal maupun asing, di kabupaten berjuluk "Sunrise of Java" tersebut.
Tari Gandrung yang dibawakan dalam Festival Gandrung Sewu memiliki perbedaan dengan Tari Gandrung klasik. Tari Gandrung klasik diperkirakan lahir sejak 1700an. Tarian ini berasal dari Suku Osing, suku asli Banyuwangi. Tari Gandrung ini pada mulanya dibawakan sebagai perwujudan rasa syukur kepada Dewi Sri setelah masa panen.
Dahulu, Tari Gandrung dibawakan semalam suntuk hingga subuh. Dalam pementasannya, Tari Gandrung terbagi dalam empat bagian yakni jejer gandrung, rapenan, paju gandrung, dan seblang subuh. Tari Gandrung ini disebut juga tari Gandrung Terob.


Sementara yang dipentaskan dalam festival Gandrung Sewu adalah tari Gandrung Kreasi. Gandrung Kreasi bisa dipadukan dengan drama teatrikal. Seperti yang dipentaskan dalam Festival Gandrung Sewu. Tari Gandrung dimainkan dengan perpaduan koreografi dan aksi teatrikal yang terbagi ke dalam beberapa fragmen. Oleh karenanya, setiap pagelaran festival Gandrung Sewu pasti mengusung tema tertentu.
Dari enam kali penyelenggaraan Festival Gandrung Sewu, masing-masing memiliki tema yang berkaitan satu sama lain. Tema yang diangkat merupakan kisah-kisah perjuangan rakyat Banyuwangi di masa lalu.

Awal mula tari Gandrung dan perlawanan rakyat Blambangan
Tahun 2012, Festival Gandrung Sewu mengambil tema Jejer Gandrung yang berkisah tentang sejarah kelahiran Tari Gandrung. Jejer Gandrung sejatinya merupakan bagian awal atau pembuka pertunjukan Tari Gandrung Terob yang menyajikan tari lincah dengan menonjolkan gerak pinggul dan getar jari.
Pementasan dibuka dengan cerita penjajah VOC yang memperbudak Banyuwangi. Rakyat Banyuwangi disiksa dan para penjajah berpesta dengan iringan penari Gandrung. Cerita berlanjut dengan perlawanan rakyat hingga penjajah berhasil diusir dari tanah air.
Pada tahun 2013, Festival Gandrung Sewu mengusung tema Paju Gandrung. Sama seperti Jejer Gandrung, Paju Gandrung juga merupakan bagian dari tahapan dalam Tari Gandrung Terob. Dikutip dari publikasi ilmiah UMS, Paju adalah babak yang sepenuhnya diisi dengan tari, nyanyi, dan ngrepen (ajakan penari pada tamu) yang melibatkan penonton secara aktif. Para penonton yang ikut aktif menari bersama para penari Gandrung disebut pemaju.
Dalam Paju Gandrung Sewu, fragmen pertama menampilkan Seblang, disusul kemudian Gandrung Marsan (penari Gandrung laki-laki). Dalam fragmen ini, digambarkan penari Gandrung menari hingga tengah malam dan para pemaju akan menari sambil memberi saweran pada para penari. Fragmen ini menceritakan kehidupan penari Gandrung di masa lalu.

Di tahun 2014, Festival Gandrung Sewu memilih tema Seblang Subuh. Sama seperti Jejer Gandrung dan Paju Gandrung, Seblang Subuh merupakan tahapan dalam Tari Gandrung Terob. Seblang Subuh adalah babak akhir dalam tahapan Tari Gandrung Terob.
Kali ini Gandrung Sewu menceritakan asal-usul Gandrung pada masa pemerintahan Bupati Banyuwangi kelima, Pringgokusumo.
Pertunjukan kolosal ini diawali dengan munculnya beberapa laki-laki yang membawa penjor atau tiang bambu. Mereka diceritakan sebagai mantan prajurit Kerajaan Blambangan yang merupakan cikal bakal Banyuwangi. Mereka lalu menasbihkan diri sebagai Gandrung Marsan (Gandrung laki-laki).
Dalam perkembangannya, Gandrung Marsan lama kelamaan punah dan digantikan oleh Gandrung Semi (Gandrung Perempuan).

Kemunculan Rempeg Jogopati dan siasat melawan Belanda
Jika pada tahun-tahun sebelumnya tema Festival Gandrung Sewu diambil dari tahapan-tahapan tari Gandrung Terob, maka pada Festival Gandrung Sewu 2015, tema yang diusung adalah Podo Nonton. Podo Nonton sejatinya merupakan gending yang dimainkan saat pertunjukkan Jejer Gandrung.
Tema ini diangkat karena syairnya mengandung makna heroisme dan perjuangan yang sangat berat dari rakyat Banyuwangi ketika melawan penjajahan Belanda.
Pagelaran kali ini menceritakan kondisi Banyuwangi sekitar tahun 1771 yang subur dan makmur. Namun tiba-tiba, Belanda datang dan memporak-porandakan desa dan hasil tani milik rakyat.
Dalam kondisi yang tertindas, para petani bangkit dan melakukan perlawanan hingga pecah perang awal antara rakyat Banyuwangi dan penjajah kolonial. Dalam masa itu muncul sosok yang menjadi pemimpin perlawanan terhadap penjajah yakni Rempeg Jogopati.
"Podo Nonton sengaja diangkat untuk mengingatkan masyarakat akan perjuangan para pendahulu kita di masa lalu. Bagaimana dulu perjuangan penduduk Banyuwangi yang awalnya puluhan ribu, karena perang berkurang menjadi hanya ribuan. (Pagelaran ini) Meyakinkan kita, asal dengan niat dan perjuangan yang tulus, penderitaan awal akan melahirkan kesejahteraan yang kini kita nikmati semua,” ujar Plt. Kepala Dinas Pariwisata M Y. Bramuda seperti dilansir situs resmi Pemkab Banyuwangi.

Beranjak ke tahun 2016, dipilih tema Seblang Lukinto. Seblang Lukinto secara cerita merupakan kelanjutan dari Festival Gandrung Sewu tahun sebelumnya dengan mengisahkan kebangkitan sisa-sisa prajurit Rempeg Jogopati untuk kembali mengangkat senjata melawan penjajah
“Pada saat tokoh penggerak perlawanan terhadap penjajah, Rempeg Jogopati jatuh, prajuritnya tercerai berai di beberapa wilayah di Banyuwangi. Sehingga upaya mereka untuk melawan VOC terhenti. Untuk mengumpulkan kembali pasukan yang terpisah-pisah itu, orang-orang yang merupakan bekas prajurit Rempeg Jogopati membentuk kelompok seni. Mereka menyanyikan tembang Seblang Lukinto secara berkeliling atau mengamen,” beber Bramuda.
Jika dilihat dari definisi nama Seblang Lukinto, Bramuda mengatakan, seb artinya meneng atau diam, dan lang diambil dari kata langgeng artinya selawase atau selamanya. Sedangkan Lukinto merupakan kata dari bahasa Sansekerta yang artinya “dirahasiakan”. Jika keduanya digabungkan maknanya menjadi rencana yang harus dirahasiakan selamanya.


tahun 2017, tembang gending yang biasa digunakan sebagai pengiring tari Gandrung dipilih kembali menjadi tema, kali ini Kembang Pepe. Kembang Pepe pun menjadi kelanjutan dari cerita di tahun sebelumnya.
Kembang Pepe menitikberatkan penggunaan Tari Gandrung sebagai siasat untuk melawan penjajah. Tari Gandrung dipentaskan bersama dengan pertunjukan Barong untuk membuat tentara Belanda lengah. Mereka dibuat terbuai, larut lewat tarian dan suguhan minuman-minuman keras. Di saat itulah, tentara-tentara Belanda diserang.
"Tari Gandrung sebagai seni tradisi rakyat memang dalam sejarahnya memiliki peran penting sebagai siasat melawan Belanda," ujar Bramuda.
Kisah itu ditampilkan oleh sebagian penari Gandrung yang memakai topeng Barong dalam pertunjukkan tahun ini.


NISKALA SEBLANG BANYUWANGI

Banyuwangi - Tarian Niskala Seblang yang mewakili provinsi Jawa Timur untuk berkompetisi dalam Festival Karya Tari 2018 Tingkat Nasional, menyabet banyak penghargaan. Meski tak menjadi yang terbaik, namun tarian yang dibawakan oleh sanggar tari Umah Seni Kuwung Wetan Banyuwangi ini menyabet lima penghargaan dalam ajang yang digelar 19 Agustus lalu. 



Tarian yang dibawakan oleh 9 penari itu menyabet penghargaan berikut Penyaji terbaik se Jawa-Bali, 5 penata tari unggulan, 5 penata musik unggulan 

5 penata rias dan busana ungggulan dan 13 penyaji unggulan. 



"Meski kami tidak menyabet penghargaan terbaik, namun kita bisa mewujudkan bahwa suguhan kami menyabet predikat unggulan dari 28 Propinsi yang ikut serta," ujar Pimpinan sanggar Umah Seni Kuwung Wetan, Dwi Agus Cahyono. 



Dikatakan Dwi, Niskala Seblang yang dibawakan di ajang ini merupakan kisah tradisi Seblang Olehsari. Sebuah ritual tolak bala warga Desa Olehsari, Kecamatan Glagah Banyuwangi. Seblang ini digelar setiap 2 Syawal selama tujuh hari berturut-turut yang dibawakan oleh gadis muda yang menari dalam kondisi trance. 



"Ajang ini memperkaya wawasan kami tentang pementasan seni. Kita juga banyak mendapatkan hikmah dan pengalaman berharga di ajang ini. Banyak pelajaran berharga dalam proses yang kita lalui," tambahnya. 

Hingga saat ini tarian Niskala Seblang tersebut ditarikan banyak siswa sampai saat ini